1. Pendahuluan
Salah satu
ciri manusia modern adalah keanggotaannya dalam berbagai organisasi,
yang bertujuan untuk mencapai tujuan pribadinya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup baik bersifat materil maupun spritual. Alasan
utama adalah karena semakin kompleksnya kebutuhan sehingga manusia tidak
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya itu secara perorangan. Oleh karena
itu dikatakan bahwa organisasi dicirikan oleh perilakunya yang terarah
pada tujuan.
Organisasi kemahasiswaan di Perguruan Tinggi adalah
wahana dan sarana pengembangan diri kearah perluasan wawasan dan
peningkatan kecendikiawanan serta integritas kepribadian. Adapun
kegiatan yang dilakukan berupa kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler.
Kegiatan kurikuler, antara lain meliputi perkuliahan, praktikum, praktek
kerja lapangan, dan lain-lain yang pada umumnya adalah wajib sifatnya.
Sedangkan kegiatan ekstra kurikuler, yaitu kegiatan kemahasiswaan
seperti himpunan mahasiswa, badan eksekutif mahasiswa, parlemen
mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan Sub.UKM. Merupakan hak
mahasiswa untuk mendapatkan perlakukan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuan yang diikutinya yang mendapatkan prioritas pembinaan,
penyaluran dan pengembangan.
Pengembangan kemahasiswaan merupakan
tanggung jawab atau tugas nasional yang penting, karena mahasiswa
sebagai sumber daya manusia merupakan potensi vital dan strategis.
Pengembangan tersebut dengan memperhatikan seluruh komponen, yaitu
keadaan mahasiswa, tenaga pembimbing, materi, metode pengembangan, dana
dan fasilitas, sasaran program dan kelembagaan. Mahasiswa bukan lagi
obyek pembinaan tetapi merupakan subyek bagi pengembangan diri sendiri,
yang berarti harus memikirkan berbagai strategi, mulai dari perencanaan,
proses pelaksanaan dan evaluasi, sehingga target pengembangan dirinya
bisa tercapai.
Perencanaan program dan penyusunan usulan kegiatan
belum dapat kita lakukan sebelum adanya pembagian program kerja, yaitu
suatu tugas atau kewenangan yang diberikan kepada suatu unit kegiatan
atau lembaga untuk menyelenggarakan suatu bentuk kegiatan. Tujuan dari
pada pembagian ini adalah untuk menghindari terjadinya kegiatan yang
sama baik waktu maupun bentuk kegiatan antar lembaga, dan tujuan lainnya
adalah agar dalam melaksanakan kegiatannya dapat diklasifikasikan atau
dikelompokkan mana kegiatan yang sifatnya umum atau lebih terarah pada
ciri khas fakultas atau jurusan.
2. Perencanaan Program
Dalam merencanakan suatu program, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:
- Proses pembuatan program
- Identifikasi program
- Langkah-langkah dalam penyusunan rencana program
- Penjadwalan rencana program
2.1. Proses Pembuatan Program
Dalam proses pembuatan program dapat kita kemukakan sebagai berikut :
- Berdasarkan atas fakta yang objektif, rasional dan pertimbangan-pertimbangan terhadap perkembangan kegiatan.
- Sasaran yang ingin dicapai harus jelas.
- 5W + H : What (Apa), Why (Kenapa), Who (Siapa), Where (Dimana), When (Kapan) dan How (Bagaimana).
- Harus dipertimbangkan kebijaksanaan organisasi.
- Antara satu kegiatan dengan kegiatan yang saling mengisi dan berkaitan.
- Tidak kaku dalam batas-batas tertentu sesuai dengan perkembangan.
- Mudah dipahami dan penafsiran harus sama oleh pelaksana kegiatan.
2.2. Identifikasi Program
Dari sekian banyak bidang atau seksi dalam perencanaan program harus diidentifikasi menurut:
- Bidang kegiatan
- Jenis kegiatan
- Sub.jenis kegiatan
- Bentuk kegiatan
Berdasarkan Misi Universitas akan diambil salah satu bagian yaitu kegiatan dalam bentuk pendidikan dan penalaran.
Bidang kegiatan : Pendidikan dan Penalaran
Jenis kegiatan : - Pendidikan
Bentuk kegiatan : - Diklat, dll
Jenis kegiatan : - Penalaran
Bentuk kegiatan : - Seminar, Lokakarya, dll
2.3. Langkah-Langkah Dalam Penyusunan Rencana Program
Dalam merencanakan suatu rencana program beberapa langkah yang harus kita perhatikan, yaitu :
- Sasaran yang ingin dicapai harus diketahui dan ditetapkan.
- Kumpulkan data atau informasi yang diperlukan.
- Analisa data dan informasi terhadap sasaran atau permasalahan yang terjadi.
- Identifikasi faktor-faktor apa saja yang akan menjadi penghambat dan penunjang.
- Buat alternatif rencana program, dari masing-masing alternatif tersebut tetapkan yang terbaik.
- Rencana program harus terperinci, yaitu terdiri dari waktu, pendanaan, pelaksanaan dan lain-lain.
2.4. Penjadwalan Rencana Program
Penjadwalan
program merupakan aspek penting dari suatu perencanaan program, karena
dalam suatu penjadwalan tersebut lebih memfokuskan kepada identifikasi
terhadap sesuatu yang harus atau ingin dilakukan, kapan untuk dimulai
dan kapan harus selesai. Penjadwalan ini sangat membantu dalam hal
pelaksanaan, monitoring kegiatan, dan evaluasi suatu program.
Dalam penjadwalan suatu rencana program beberapa hal harus kita pedomani :
- Identifikasi seluruh kegiatan yang direncanakan.
- Prioritaskan program.
- Tentukan kegiatan yang telah dirinci.
- Tentukan lama waktu dan waktu pelaksanaan.
- Jadwal kegiatan disesuaikan dengan tahun anggaran
- Evaluasi jadwal yang telah disusun.
Dari
keempat hal tersebut diatas, walaupun perencanaan program yang disusun
terlihat baik dan rapi, dalam pelaksanaannya belum tentu demikian.
Seorang pemimpin atau ketua organisasi harus dapat memperkecil
kendala-kendala yang datang baik dari dalam maupun dari luar organisasi.
Kendala yang datang dari dalam organisasi adalah kuranganya pengertian
dan pemahaman, kesadaran dan tanggung jawab, waktu dan pendanaan, pola
manajemen. Sedangkan yang datang dari luar organisasi seperti
peraturan/ketentuan-ketentuan (birokrasi) yang berlaku, faktor sosial,
faktor politik dan faktor ekonomi.
Organisasi merupakan sistem
yang kompleks dan multidimensi, dalam hal ini dituntut kemampuan
pengelolaan menghadapi dan mengatasi bermacam tantangan atau hambatan
dan perubahan baik dari dalam maupun dari luar. Semakin kritis dan
dinamis kehidupan kampus, semakin cepat dan besar terjadinya perubahan,
berarti strategi-strategi yang tepat sangat diharapkan sekali.
Strategi
merupakan suatu arah dan kebijaksanaan untuk pencapaian tujuan
organisasi, yang melibatkan peran dan tanggung jawab anggota. Dalam
menetapkan strategi ini kurun waktu pelaksanaan kita tetapkan
berdasarkan program jangka panjang dan jangka pendek. Dalam perencanaan
ini harus dapat dilaksanakan serta di-implementasikan secara konsisten,
dan hasil yang ingin dicapai benar-benar memenuhi sasaran yang akhirnya
akan dievaluasi keberhasilannya.
Setelah program direncanakan,
apakah benar-benar telah evektif. Dalam menilai suatu perencanaan
evektif atau tidak dapat kita perhatikan yaitu : manfaat dari hasil yang
dicapai terhadap yang kita harapkan apakah sesuai dengan sasaran, dari
manfaat yang kita harapkan bagaimana pemanfaatan dana, efisiensi,
evektifitas dan
pengelolaan. Untuk pencapaiannya dibutuhkan
pengendalian atau monitoring dan pengawasan secara 3S (sebelum, selama
dan sesudah) kegiatan berlangsung.
Secara makro keberhasilan organisasi dalam melaksanakan program dapat dinilai dari:
- Hasil yang dicapai.
- Keterlibatan anggota (sumber daya anggota).
- Manajemen atau sistem pengelolaan.
- Lingkungan dimana kegiatan dilaksanakan.
[newpage]
3. Mekanisme Perencanaan Program
Mekanisme perencanaan program dimaksud adalah untuk mengetahui siapa perencana program, dan siapa pelaksana perencana program.
Pada
lembaga kemahasiswaan di berbagai perguruan tinggi yang merencanakan
program adalah Parlemen Mahasiswa atau disebut badan legeslatif dimana setiap perguruan tinggi memiliki nama yang berbeda-beda akan tetapi pada intinya tujuanya sama dimana dalam bentuk Garis-Garis Besar Program
Haluan Lembaga sedangkan pelaksana dari perencana program kedalam
bentuk program kerja tahunan adalah Badan Eksekutif Mahasiswa. Sedangkan
pada tingkat jurusan yaitu Himpunan Mahasiswa Jurusan merencanakan
program kerjanya berdasarkan propesi dan keahliannya berdasarkan ciri
kejurusanan-nya.
Parleman Mahasiswa dalam merencanakan program
kerja masih dalam gambaran umum, tidak dalam bentuk kegiatan atau
tersebut dalam jenis kegiatan. Parlemen Mahasiswa hanya memberikan
target-target untuk dilaksanakan oleh pelaksana program kerja untuk satu
periode. Target-target tersebut diperoleh baik dari mahasiswa dan
pembina lembaga mahasiswa (sebut saja Pembantu Dekan bidang
kemahasiswaan) yang lebih mengarah pada VISI dan MISI. Seluruh
garis-garis besar haluan lembaga yang akan dilaksanakan oleh Badan
Eksekutif Mahasiswa, merupakan tanggung jawab Parlemen Mahasiswa untuk
memonitor, mengevaluasi dan meminta pertanggung jawabannya.
Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) akan menjabarkan gambaran umum yang telah
disusun oleh Parlemen Mahasiswa, dalam bentuk kegiatan, jenis kegiatan
dan lain-lain. BEM melakukan apa yang harus dikerjakan dan sasarannya
lebih ditujukan untuk kepentingan mahasiswa secara umum. Setiap kegiatan
yang direncanakan mendapat sumbangan pemikiran dari mahasiswa dan
pelaksanaan rencana kerjanya menkoordinasikan dan mengkonsultasikan
dengan Parlemen Mahasiswa. Semua kegiatan akan dipertanggung jawabkan
kepada Parlemen Mahasiswa dan pembina lembaga mahasiswa.
Ditingkat
jurusan, HMJ harus mempertanggung jawabkan seluruh kegiatan kepada
Ketua Jurusannya. Program kerja yang direncanakan lebih diarahkan dan
difokuskan pada profesi dan keahlian. Seluruh rencana program
dikonsultasikan kepada Parlemen Mahasiswa dan BEM. Dari konsultasi dan
koordinasi tersebut akan dapat terhindar dari terbenturnya kegiatan yang
sama, dan manfaat lain adalah untuk tidak melaksanakan kegiatan yang
tidak sesuai dengan profesi dan keahlian.
Parlemen Mahasiswa
harus benar-benar dapat merupakan perpanjangan tangan seluruh mahasiswa
untuk menyalurkan aspirasi dan keinginannya. Kemudian dari saran-saran
yang diperoleh tertuang kedalam garis-garis besar program haluan
lembaga. Dan BEM dapat membaca apa yang menjadi keinginan mahasiswa
tersebut, dalam rangka pelasanaan penalaran, minat dan kegemaran dan
kesejahteraan mahasiswanya (baca : tugas pokok Parlemen Mahasiswa, BEM
dan HMJ).
4. Penyusunan Usulan Kegiatan
Penyusunan
usulan kegiatan lebih dikenal dengan nama Proposal, yang tujuannya
adalah menerangkan dan menjelaskan suatu kegiatan yang direncakan. Dalam
penyusunan usulan kegiatan Proposal haruslah jelas,
tepat dan benar. Tiga hal ini sering sekali menyebabkan proposal yang
diusulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan bahkan ada kemungkinan
proposal tersebut tidak diterima atau ditolak. Hal ini dapat saja
terjadi, karena proposal yang diusulkan tidak ada kejelasannya,
sasaranya atau terdapat manipulasi angka-angka yang dibutuhkan.
Walaupun
dalam pembuatan proposal ini tidak memerlukan pengetahuan khusus,
tetapi kita harus mengetahui tata cara ataupun aturan penulisannya.
Berikut akan diperlihatkan contoh usulan kegiatan "Proposal" secara
umumnya :
- Pendahuluan.
- Dasar Pemikiran.
- Tema Kegiatan.
- Maksud dan Tujuan.
- Penyelenggara.
- Jenis Kegiatan.
- Peserta.
- Waktu Pelaksanaan.
- Susunan Kepanitiaan.
- Pembiayaan.
- Penutup.
Yang
sangat penting untuk menjadi perhatian dalam usulan kegiatan adalah
pada bagian : Dasar Pemikiran dan Anggaran Biaya. Karena pada bagian
inilah yang selalu menjadi perhatian pemilik dana atau sponsor, setelah
itu baru diperhatikan bagian-bagian lain. Dengan demikian pada dasar
pemikiran ini harus ditunjukkan kegiatan yang diusulkan memang
benar-benar penting dan harus dilakukan, sasaran dan manfaat yang ingin
dicapai menjadi penjelasan pada bagian ini. Struktur isi pada dasar
pemikiran, pada umumnya terdiri dari : pendahuluan dari kegiatan yang
akan dilakukan, menerangkan pentingnya kegiatan yang akan diusulkan,
dikuatkan pada masalah-masalah yang terjadi saat ini dan menyelesaikan
masalah pada masa yang akan datang , sasaran dan manfaat yang diperoleh
terhadap pemilik dana ataupun pelaksana secara umum dan secara khusus,
keterangan yang menguatkan bahwa kegiatan yang diusulkan tersebut dalam
rangka memperingati atau ada dasar lain yang dapat di tonjolkan sehingga
usulan kegiatan ini beriring dengan maksud tersebut, kemudian penutup
dari dasar pemikiran.
Penutup
Setiap
organisasi dibentuk dan dijalankan adalah untuk mencapai dan memuaskan
berbagai tujuan, baik tujuan anggota maupun tujuan organisasi itu
sendiri. Karena organisasi merupakan suatu bagian dari sistem yang lebih
besar, maka tujuannya juga harus ebih luas baik dalam internal kampus maupun masyarakat.
Kegagalan
dalam merencanakan program kerja akan mengakibatkan gagalnya
organisasi. Dalam merencanakan program harus diikuti kemampuan yang
dapat diimplementasikan kedalam program kegiatan. Kegagalan perencanaan
dapat dihindari dengan identifikasi masalah dan strategi yang tepat.
Dalam perencanaan program dibutuhkan unsur-unsur pendukung katagori
program dan saling terintegrasi kedalam satu kesatuan sehingga lebih
sistematis. Selain dari pada itu kemampuan anggota memegang kunci
keberhasilan setiap perencanaan tersebut, anggota harus melakukan
interaksi yang lebih dinamis dengan sesama anggota dan tidak bersifat
konservatif.
Diharapkan memiliki sikap loyalitas, dedikasi dan
wawasan yang lebih luas kedepan dari semua unsur dan tingkat organisasi
untuk mencapai sasaran akhir pertumbuhan, kelangsungan hidup/aktivitas
dan mamfaat bersama.
Dalam penyusunan usulan kegiatan harus
jelas, sehingga siapa saja yang membacanya akan mengerti maksud dan
tujuan dari pada kegiatan yang direncanakan pelaksanaannya. Disamping
itu dalam penaksiran/taksasi anggaran biaya tidak dimanipulasikan, dan
harus sesuai dengan bentuk kegiatan.